Friday, 29 August 2014

Don't ask me again. Period.

I give u reasons why if u get any chance to study overseas, take a pre-oversea programme, u shud grab the chance. I will tell  you because I dream of it so direly and didn't get the chance.  Not even looked at, even though I have put much efforts in my entire school years to get access to a wider-horizon of education. My heart is broken into pieces.  I am broken into pieces. 

I decide to put my agony to an end by writing some pieces of my mind before, as you know, I enroll into my first degree. Now, before some people decided to get against me like I should stop complaining my misery when other people is more miserable and even those people who are en routed in their overseas educational journey are also having terrible life even far worse than me, or that stop jealousing, or dont regret your destined fate, or that they are more unfortunate people that I am, or oh, u r so grumpy. Indeed I am because everyone keeps pushing to shell my feeling inside when I never stop wiping my tears for more than a year and half from the date at the corner of the room.  And this one moment, just this one moment I decide to give all out of what I am not satisfied about because this disastrous feeling shud have been erased from anyone's heart or mind. It is, a parasite. I myself won't bear having to know or see people with this feeling. I will directly sympathise anyone that has to abandon their dreams (no, not because I am kind or baik but simply that I damn know how bad it feels). 

I go down the memory lane and realise all the hopes and dreams that I built but never been able to realised it. With dreams all ashing, I wake up, I walk, I think, I read, I write, I cry, all done by not being the same person.

And there was this one period of my time when I was introduced to a bunch of great people with such a variety of individuality. It was a big time to be meeting them and even great that we still keep in touch, like everyday, literally. But my misery intensed up when I was to get to know this big-headed guy who with his ability to speak (or more to write) eloquently keep critically commenting on my practises/thoughts/writing/saying as  if his values and beliefs are all the right while others (particularly me, because he is kind to other people) are deflecting. 

(He will like me writing about him here because he is basically proud with everything that he does so don't worry about how he will perceive this. If he is not that sort of people I wouldn't write it here at the first place.)

But there's more to it than seeing the person (which we still value him as a person who will be wise and great at literature) for a year or almost.  This heck of life has also something to do with having close friends in kmb to keep updating me of what is it feel to be there. I like the struggle,  I like the hecticness, I like the play, I like the bunch of works assignments projects that they get. Not entirely because I like the tedious schedule by itself, but because the subjects range is not fully specified like one I had in asasi sains programme in which I only get to learn sciences (even though extensive) while they get to learn extra subjects like economy, literature, languages, a little bit of philosophy, etc.  So it is like a compensated education to what I dont get to learn in high school, and to knowing people that I don't get to meet before. And to get mess up in such a jumble of wonderful work is an experience we don't get in a non-world-class educational institution (mind you I don't get easily impressionable by the 'world-class' title only by reading an ib promo in its website).

I am soon to be venturing into medical field. In which by now, after so many months occupied to be reflecting and new interest also grows, I come to realise that if I were to get a chance to explore into any field of knowledge and skills without any restriction of budget fee/time consumption/location/educational background/natural talent, I wouldn't intrinsically choose to become a medical practitioner at the very beginning. Medicine is how far my education has exposed me into, to study subjects in school, to get into science and wal-lah, here I am therefore. But to be honest, I wouldn't come to even get any remotely remorsed my choice if it wouldn't because a mishap that happened earlier on, because by then, I wouldn't be keen in an area which I am just a mediocre.

I know that this is such a vanity to be feeling all this, to not be grateful for whatever I have which is by many degrees are very fortunate, and even worse I am to be writing it down here. But not all stories are here, we don't call it a personal journey if we tell everyone everything eh? I try being grateful for what I have and whatnot but it is not as easy because what have stroke me is beyond my own capability to what I understood by Allah's mercy. It is too far-fetched to say that, because indeed I realise it is very very wrong to say one since He must have kept the fortune of every of His slave somewhere they don't expect. I know I'm too rushing to materialise my dream (which is almost no much longer my dream anymore) when Allah knows that it is not the best yet.

thus therefore by writing all this in a blog and publishing it, not wanting to keep into myself anymore (judge me as much as you needed but I am in dire need to end this miserable feeling.)

I rest my case.



And, I rest everyyyyyyyy of this agony from inhibiting my emotion and my mind. Period. 

Thursday, 28 August 2014

#6



Lebih dari 20 draft tulisan tinggal tua dalam fail documents di Words atau tidak pun tinggal saved, not published dalam blog personal. Tidak mengapalah, siapa sahaja yang berbakat melukiskan rupa hati sebentuk sama seperti hatinya sendiri. Bukan saya. Fasal-fasal hati ini lebih terang maknanya jika tidak diceritakan sebulat rupa tetapi dilapik-lapik dengan cerita. Semacam membaca cerpen oranglah. Persoalan yang jarang sekali terjawab ialah apa kisah disebalik kisah itu. 

Cis. 

Saya tidak berniat menulis cerita. Mengarang cerita baik di mulut atau pena memang kelemahan yang aula sekali. Dan saya juga kurang berhajat untuk apa yang saya tulis ini jadi bacaan orang sekalipun, kerana kerasnya pengucapan seorang teman sekelas ini mengingatkan saya untuk tidak berharap ‘entitlement’ dari apa-apa hasil sendiri.

Aneh manusia ni. Sebabnya, yang lagi lunak itulah yang lagi banyak diserang sedangkan yang sedia lunak itu sedia membengkok untuk berubah sekehendak tuan.  

Ah, kalau alang tahu betapa mahalnya harga sebuah pelajaran, ntahkah kita akan memilih untuk tahu atau lebih baik berdungu sahaja. Lagi berat hati lagi lekat ajarannya. Tapi hati yang sarat mendukung sakit cemburu boleh bawa ke mana saja, hanya sedepa bulatan dari tempat berdiri, tidak mungkin ke timur, tidak mungkin ke barat. 

Jugalah saya ini orang yang banyak bingungnya. Kerap jadi  tidak keruan bila idea jauh datang mendekat cuba bertarung dengan nilai hidup sedia ada. Karya-karya manusia ini (biarpun pengetahuan saya hanya sejengkal kail cuma) bawa kami ke satu dimensi lain. Susah nak dikata. Nak ditelan tak cukup sama adatnya, nak diluah rasa asin manis semuanya sudah cukup enak pula untuk dimakan. Tapi itu dululah ceritanya. Makin serik tenggelam dalam lautnya kebingungan dan soal-soalan, makin saya lebih dikit berani berada dalam campuran kandungan airnya. Kerana bila mana kita menenggelam diri dalam air, tidak semestinya kita meneguk sekali airnya. Boleh ditahan mulut seperti ditahan nafasnya. Tetapi tidaklah saya ini lebih berani dan teguh daripada tuan puan yang membaca coretnya tulisan ini. Cuma hanya membandingkan diri saya yang dulu-dulu. 

Jujurnya, dalam kematangan menilai kehidupan (tidak lebih matang dari tuan, hanya membandingkan dengan saya dulu), makin tahu cerita manusia makin buntu mahu ikut neraca yang diberikan dalam madrasah agama yang bersifat literalis. Saya mendapat jalan yang susah dalam melangkah ke dimensi baru, tidaklah bagi kebanyakan orang yang sedia faham tabiat manusia. 

Kadang saya tidak tahu apakah saya dulu itu seperti anak-anak jiwanya. Mudah benar merasa kagum pada sekecil-kecil hal sekalipun. Kids are impressionable. Itulah agaknya saya yang dulu dari semenjak pandai turun dari buaian hingga ke satu fasa remaja kemudian sampai kepada waktu ini. Mudah rasa gah pada yang dilihat bukan sahaja ada kaitannya dengan penyakit ain yang bakal terkena orang, tetapi bahananya juga pada diri sendiri kerana ia boleh mengelabukan pemandangan akal dalam meneracakan sesuatu. Dipandang semuanya baik-baik dan sempurna, diperindah-indahkan pula yang sedia indah. Alangkah malang kaki tersadung. Pun begitu, setiap terjelepok ke tanah jadi pengajaran buat tahu bahawa jalan tidak semuanya rata. Ada kelikir dan batu-batu besar jua hai tuan hamba. 

Antara layar hidup paling tragis setahun dua ini bukan saja pada arti bertuhan dan ketuhanan tetapi juga memahami sunnatullah dalam perjalanan hidup. Fahamlah bahawa bekerja keras sahaja tidak guna. Bukan kudrat manusia merealitikan harapan. Tetapi jika mahu berpandukan kepintaran manusia sahaja, berapa keratkah orang yang boleh maju kedepan. Akhir-akhirnya, yang lahir bijak pandai sahaja yang mendokong lapisan intelektualis. Peluang yang kurang adil pula. Tetapi inipun aneh juga bila kita bekerja keras disangka sombong menjauh diri, tapi bila dia bekerja keras perlulah kita menerima. Paling sakit ialah mengetahui bahawa bermimpi dan berharapan juga punya risiko bencana. Hidup deh. Ada hati yang sudah koyak lusuh seperti kain digasak dengan batu-bataan, ditibai-tibai dengan lidi, direnyok pula dalam baldi.  

Akan masuk degree dalam sehari dua lagi, mahulah saya membawa hati yang baru, yang lebih persih dan suci buat tukaran hati yang amatlah luka akibat menjadi orang dagang bermimpikan beradu istana.  Tetapi tidak mengapalah. Dibatalkan niat bukan sahaja kerana hati baru tak mungkin diperoleh tetapi persih dan kesucian bukan nilai yang perlu untuk hidup. Hati perlu keras, cekal, tegap.

Hai itulah berabainya kehidupan yang menceraikan daging dari tulangnya!

Tuesday, 17 June 2014

Tanah Kehidupan Yang Baru Saya Jejaki


Saya pernah tulis dalam post lepas, mengakui bahawa kali ini, biar tulisan saya tulisan yang mentah, yang ceritanya tidak diolah melampau-lampau. Bukan lagi berfalsafah cetek lagi. Tetapi bercerita perihal diri yang saya tidak mahu simpan sendiri dalam atma sahaja. Bukanlah layaknya saya bercerita kerana saya bagus. Saya menulis kerana saya sentisa dapati, tulisan adalah teman yang paling setia waktu semua sibuk akan halnya masing-masing. Dan saya ini, masih budak mentah yang setahun jagung menjejak tanah kehidupan. Sebelum ini hanya tinggal di ranah, sekarang sudah masuk ke pinggir hutan. Di sekolah, semuanya teori-teori dan indah-indah belake.  Senang benar mahu menjalankan sesuatu gagasan tentang kehidupan. Halnya sekarang, berhadapan dengan rencam budaya masyarakat. Hidup dengan masyarakat, perlu mula keluar dari dunia sendiri. Cari pengalaman. Fahami sifat manusia. Mencari semula diri.

Ada satu kata-kata menarik yang saya terlihat di facebook oleh Human News York.

“Once you know what to do with your life, you are matured.”

Menarik saya kira. Kerana dulu saya fikir saya sudah cukup matang. Saya sudah ada perancangan ke mana dan di mana saya mahu berada dalam setahun, lima tahun, 10-20 tahun akan datang. Hatta perjuangan yang saya mahu turun padang, rumah tangga, anak-anak , jemaah, pekerjaaan dan target dalam kebanyakan hal telahpun ditetapkan. Semua sudah diatur baik-baik. Tunggu relatif usaha dan waktu untuk direalisasikan. Maka berbekalkan segala impian itu, saya berusaha keras untuk SPM. Biarpun peperiksaaan itu menjengkelkan, ia adalah kunci kepada jalan yang telah saya impikan itu. Harapan saya tinggi. Dan saya yakin pada bantuan Tuhan. 

Jika lalu di hadapan kedai pakaian ke luar negra (jualnya baju sejuk, luggage dsb) saya selalu sebut pada diri : usaha sungguh-sungguh, tak lama lagi kau akan mengembara. Dan banyak yang telah saya gadaikan untuk impian sijil itu. Malu untuk disebutkan. Tetapi peri penting dalam gadaian saya ialah.. pengalaman. Saya rasa cukup rugi, keluar dari sekolah berbekalkan pengalaman yang ala kadar. Saya kata, tidak mengapa. Nanti apabila dapat peluang ke luar negara, pengalaman yang bakal kau peroleh bakal lebih berharga dari banyak hal yang kau terlepas di sekolah.

Sehingga..

Keputusan SPM keluar.

Keputusannya bagus. Alhamdulillah.

Dan saya mohonlah segala bagai macam scholarship yang bersesuaian.

Dan.

Saya dihadiahkan dengan – tiada tawaran.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Cerita ini cukup sedih bagi saya. Mungkin remeh bagi orang lain. Ia perihal impian. Mimpi. Harapan. Masa depan. Cita-cita. Ia perihal hati yang punah. Jiwa yang remuk. Akal yang ligat berpusing memikirkan, kenapa begini akhirnya?

PLKN

Selepas sekolah, saya terpilih ke PLKN.  Sedih saya bukan main. Di tingkatan tiga lagi saya tegaskan kepada semua orang, saya tidak mahu pergi. Dulu pernah ada beberapa senior usai PLKN datang mempersembahkan ceritera mereka kepada jelata warga sekolah. Saya tidak layak menilai. Tetapi jika ditanya saya, apa yang berlaku pada mereka ,ditegaskan sekali lagi, bukan yang saya mahu.  

Jika ingatan saya masih kuat tentang kisah PLKN saya, pengumuman nama terpilih itu adalah pada minggu pertama puasa ketika saya di tingkatan lima. Berpagi-pagian datang ke sekolah. Beberapa teman sekelas periksakan nama untuk saya. Kaget. Saya pelatih terpilih. Sy menangis habis-habis. Bila guru mengajar saya duduk di belakang kelas. Sebelum tamat waktu sekolah, sesi tadarus dijalankan di kelas. Sepatah kalam Tuhan pun tidak mampu saya lafazkan dengan betul. Saya rasa seperti.. Tuhan menipu saya? Saya yakin saya sudah berusaha menjadi hamba Tuhan, kenapa begini? (ye, kenyataan yang poyo sungguh.huhu.)

Ketika yang lain sibuk bertadarus, saya tidak mampu ikuti. Tenggelam dalam suram nasib sendiri.  Saya belek-belek ayat Al-Quran yang saya tanda. Ayat-ayat yang selalu memujuk saya dulu. Ayat-ayat yang selalu mendekatkan diri pada Tuhan, juga yang banyak meringankan masalah saya. Saya pindah dari pelbagai muka, semua ayat itu memberikan kesan paling minima dlm jiwa saya iaitu.. nilai kosong. Tidak mungkin ini berlaku. Ketakutan saya adalah realiti.

Saya menangis, saban hari. Tidak kira tempat, jujurnya. Tidak berhenti sehinggalah beberapa waktu selepas PLKN tamat. Dekat-dekat SPM, waktu ulangkaji pun, jadi waktu berduka lara. Isu itu terlalu berat untuk dipikul. Bagi seseorang yang mengambil perihal akademik di sekolahnya dengan terlalu serius ini, habis SPM tentulah waktu melepaskan diri dari segala peraturan yang saya letakkan pada diri sendiri. Dasar luka terlampau dalam. Dan tidak sesiapa mampu memahami perasaa seseorang yang hatinya begitu bayi ini.  

Rapuh. Dan patah dah pun. Nak cantum semula boleh ke?

Boleh. Jika takdir dapat dipatahbalikkan. Tetapi itu tidak mungkin.

Maka tinggallah kesan luka kecil di sudut sekeping hati.

SERIUS  AMAT (--)*fokus!

Saya orangnya dulu serius benar. Semuanya perlu fokus. Kurang bercanda. Saya tidak banyak memilih untuk berhibur kerana rasa bersalah sebagai seorang muslim. Muzik dan nyanyian bukan halwa telingan saya.

Hasil pembacaan buku fikrah islami ini bukan dijamin terus hasilnya bagus. Saya jadi begitu keras pada  diri sendiri. “Kewajipan lebih banyak daripada masa yang kita ada”, “Peranan syabab ialah menjungjung perjuangan ini”,”Siapa yang akan menyambung risalah ini kalau bukan kita” Bla bla.

Maka saya tidak mahu main-main dalam urusan saya. Saya tak cukup masa. Saya syabab islami. Saya penerus legasi ini. Saya perlu betul-betul dalam semua kerja.

Kemudian, adalah beberapa perkara berlaku yang menjadikan saya berfikir kembali. Bahawa menjadi keras begini tidak menjanjikan kejayaan kepada saya ataupun agama. Manusia ada psikologinya. Perlu hidup dalam keadaan manusia diraikan sifatnya sambil kerja-kerja penting itu dijalankan. Mahu terus dengan kepercayaan sendiri tanpa mengaitkan diri dengan dunia sekeliling, hiduplah di gua nun sana. Bukan sini di tengah-tengah masyarakat. 

Maka saya kembali mengorak langkah pertama. Ke dunia kehidupan.

#Confusion Infused



"I've been holding this feeling for so long that it swells inside my heart. I tried to tell people i deemed trustworthy enough but the challenge was making people to understand. But I wonder whether I should try making people understand at the first place, because at the end, nobody could embrace the same feeling being in our own shoes.  I tried to seek you out for so many times before, but I was hesitant. It turns out to be I am always in doubt of doing something even though I have decided it as the best. I didn't want you to call me weakling. But now I'm so lost. I want to get right back to the track. And therefore, to put my pride low, it’s the time.

I am one a muslim who is so confused of what type of muslim she should become. She used to devote herself so much to her religion, but it is this that causes her to see her past down, a failure of being a good muslim.

In school,  I almost said to be the so-called angelic girl. Gullible and innocent so they say, yet full with so much spirit that fires up upon religious dogma. Maybe so because I talked about only good things. Some serious stuff. Worried about the condition of the ummah. What dakwah plan is next. What this ahli agama said and how to implement in life. New arguments about fiqh and all. I adhered much to the hadith “ talk good or be silent.” My fondness to hadith and its authentication were tremendous. I took many hours at home flipping through kitab or surfing the internet searching for authentic hadith and any other worthy reading materials. I got indulged much in many ‘fikrah’ books especially those written by hassan albannas, mustafa masyhur, abu’urwah. Also some other books written by famous muslim scholars dedicated for syabab like alqarni’s and imam ghazali’s. And to say, few random others.
I rarely spoke random stories or did crazy jokes with friends. All conversations quite some simple smiles and laughings. (The first out-loud laughing I ever had in my entire life, as so I can recall, was the next day after names of selected PLKN trainees were announced.) I didnt understand why many people wouldn't understand the worry I was in therefore worked the so-called dakwah out together. Because it is “kewajipan yang kita ada lebih daripada masa yang kita punya."

I spent many hours in vehicles, classes, free times thinking how to solve “ummah’s problem- more specifically in school. But whoever did know.  I couldn't really figure out what the problem was that most people around me didn't understand my vision. I thought I should blame myself for not knowing to tell people what I felt. But I'm tired too of blaming myself for lots of occurrence. Because somehow, everything bad happened, as so I believed, boiled down to own self. Hence, I was the one who didn't know how to make it out. But certainly now, I want to quit blaming myself. Because I've tried my best.

I'm confused."

This is a letter I wished to send to someone. But after moments, I know is not that I’m confused. But the truth is hard to be accepted. Therefore never send this to you.

I'm going to work myself out again though. To be human. Not angel. May the journey is blessed.

Saturday, 26 April 2014

#4

DULU saya risau benar apabila keluar sekolah dan menjadi orang yang lain sama sekali. Baru-baru ini baru sahaja membelek semula post-post lama (yang harus diakui agak kelakar dan sedikit memalukan) dan mendapati saya pernah mencatat ketakutan saya di sini.

Selepas keluar sekolah, dan cuti saya dipadatkan benar-benar dengan program2 yang begitu baru sekali untuk saya. Bejumpa dengan sebaya yang sangat pelbagai mulia/tinggi/banyak/sedikit akhlaknya/ilmunya/karakternya/bakatnya/latar belakangnya, membuka mata, hati, akal semuanya. *dan kemudian akal, perasaan menjadi sesak dengan proses menghadam benda yang sangat asing itu.

Perjalanan dua tahun yang singkat itu sebenarnya sangat panjang. terlalu 'efektif' dan kesannya amat dalam. begitu juga lukanya. 

Tetapi akhirnya ia mengajar tentang sesuatu. Dalam perjalanan hidup ini, tiada yang lebih bermakna melainkan husnulkhotimah. Moga kita dikurniakan. Ya Tuhan. Rahmatilah.

"We don't get out of the storm being the same person again."

 "When our brains are stretched from new horizons, they can never revert to normal."

#3

PENGALAMAN terlalu berharga untuk manusia yang sedar tentang kehidupan mereka. Sedar, seperti memahami hakikat kehidupan yang penuh dengan karenah-karenah manusia yang susah sekali untuk difahami, kadang kala bersifat melampau sehingga manusia yang tertindas pula yang dijadikan pesalah. Pengalaman itu terlalu berharga untuk mengajar manusia tentang perasaan cinta, takut, bahagia, resah dan berharap. Terlalu berharga dalam membuka ruang minda dan membenarkan mata untuk terbuka lebih besar.  Berjumpa dengan manusia yang terlalu aneh wataknya atau anehnya pada fikiran/cara dia melihat sesuatu atau pada ilmunya yang begitu luas sehingga kau sendiri sesak nafas cuba memahami isinya atau petahnya dia berkata-kata sangat mengkagumkan atau pada akal fikirannya bagaimana boleh jadi begitu tersusun dan teratur sekali atau pada keberaniannya dalam mencabar status quo yang telah sekian abad tidak pernah ditentang. Atau pada sesuatu yang lain yang tidak pernah dibayangkan hari ini.

Tapi,

Jika kita bersedia untuk terbuka kepada kehidupan,  esok akan membawakan pengalaman yang lebih ajaib.
Ajaib ini bukan “fairy tale”. Kebanyakan waktunya, ajaib ini sangat menyakitkan tahu. 
Tapi, jangan risau.
Kita,
bersama. ;) 
Dan selagi kita ikhlas, Tuhan akan tunjukkan jalan.

#2

IKHLAS, demi Tuhan yang Esa itu, adalah sesuatu yang terlalu besar hikmah dan nikmatnya. Tidak mudah-mudah untuk sesiapa mendapatnya, tetapi pun begitu ia sangat mudah bagi Tuhan untuk memberikannya kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya. Pada waktu dijentik dengan ikhlas, banyak benar pemikiran-pemikiran yang jahat ( atau yang mencabar tafsiran manusia kepada agama) diluruskan kembali. Bahawa jika anda sayang, cinta, kasih pada agama ini, ada juga dalam kalangan para muslimin/du’at/asatizah yang juga benar2 ikhlas, sayang, cinta, kasih pada agama ini, malah ada yang lebih dari sayang anda sendiri.

Maka lebih terbukalah kita untuk menerima salah silap baik kita semua, bahawa kita ini semua sama. sama-sama cinta dan kasih..