Monday, 28 May 2012

The Journey - What I've learned!

It's the end of it. Today it is and it'll never start again until the day of another chance.

But, yea, some dreams have just to be buried because the journey to pursue it has ended and we could nothing about it.
Like this one dream :

We had been working so hard for it, days and night but fate is destined somehow else.

Sometimes you can't reach the stars but just let ourselves enjoy the journey in the rockets, spy and explore everything you could see and touch. Like this journey. Through this journey, I've learned tremendously a lot of things that have taught me life and the meaning of 'be a muslim wherever you are'.

Along my participation in this english committee, I've met a large range of people. From muslim to non-muslim. From teachers to students. From people who speaks English and people who don't (not even dare). From people who's very sceptical to muslim society to those who're simple.

The last time I met with non-muslim friends, we talked and chatted, a lot of things. But hey, yes. The way muslim (in a real sense I mean) view the world is different with those non-muslims. True muslim see the world as : we need to work hard to achieve everything because in everything we do, there's always a sense of da'wah and doing it for Allah's sake. That, what I've experienced is, muslims have something to make themselves aflame with fighting spirit. They have a strong factor to push them to surpass limits, yet if they lose they'll know that's the best for them that Allah has decided and they are upset but never drag it too far away from an extend period.

 - In the quarantine room, we as a team would always pray together  (lead by the only man), and those prayers have always been something full with hope and 'fatawakkaltualallah'. And that prayers have always been something to remind us that we always have Allah with us (Allah ma'ana) and they don't.

And after the prayer was recited, we (muslimah only) would make an islamic-circle (or whatever you would like to call them) open the Quran, flip on the pages and recite surah An-Nashrah together thrice (well, not that we haven't memorised it but reciting while holding the Quran, give a different spirit, after all my Quran has just beeen rewrapped with beautiful  -expensive- gift wrappers!).
We read the translation and always had our eyes glued at some verses, those are :


أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ﴿١
1.  Have We not expanded thee thy breast? 
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ ﴿٢
2.  And removed from thee thy burden
الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ ﴿٣
3.  The which did gall thy back? 
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ ﴿٤
4.  And raised high the esteem (in which) thou (art held)? 
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٥
5.  So, verily, with every difficulty, there is relief:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿٦
6.  Verily, with every difficulty there is relief.
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ ﴿٧
7.  Therefore, when thou art free (from thine immediate task), still labor hard,
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ ﴿٨
8.  And to thy Lord turn (all) thy attention.

Ok. Sorry. What I mean is the entire surah had made us reread it thousand times especially the last verse.
We turn our attention to none other but Allah. And we seek help only from Him. La haulawala quwata illabillah.

And you know, after reading the chapter, it just felt like I (or we) have got a new spirit to dare us to stand up and fight and do our best. It's a contentment indeed!
Let's prove it! 
Proving is something we (the team) always think of. To prove that muslims are not weak.
If you think we are then you are wrong.
But then people argue, if it's true then why you've to prove it?
Because at the first place you just don't see. Now we're opening your eyes, wide open.
We, muslims, are conservatives.
Ouch! It is kind of hurt to hear it. But to rethink. Why do we care? If they think that leading a life as a true muslim, putting Allah as the utmost priority is something conservative. Then let it be. Because yes, Allah is where we are heading to. And nothing could change it even a mountain of pure glittering golds are put in front of our eyes.
But along the line, we muslims really have to be open-minded in something that does not oppose or contradict the teaching of Islam. And at the same time,  please don't bring any distinctly contradictable English culture to this purely authentic religion of Islam.
It's nice to see people like you guys could speak English that well.
I've just received this remark. Am thinking.. what do you mean between the lines? =.="

There's quite a lot of some times where I asked people why is that we muslims are not that successful as the non-muslims are. The answer would be simple. It's the culture. Everyone I asked, their answer will almost be the same. Note that some people blame this religion (na'uzubillahiminzalik) for the failure we face. But the problem does not come from that. It comes from us. Our attitude.
How far have we practice this religion in a true sense?

Practising Islam does not mean talking about islamic issues all the time, yet still wasting abundance of times. when Allah said :
"Certainly will the believers have succeeded, They who are during their prayer humbly submissive,


And they who turn away from ill speech, And they who are observant of zakah,
And they who guard their private parts, " (s. AlMukminun)


DETERMINATION, it is, something we are lacking in.
Because when we are determined, then we will be able to do just almost everything by Allah's will.

Oh dear. I myself have just so much to do to pull up my socks to be a better muslimah. And we will always do and never be satisfied if we ever are in the right track.

May Allah help us to rise up. Collectively and only collectively, we conquer the world!

-We're ghuraba'. There are things we cannot compromise.

--Sorry for the very bad English. By any chance that my teachers come to read this, I'm very sorry.

Saturday, 26 May 2012

Kemajuan, matlamat kita?

Andai diberikan sepanjang masa, mahu saja saya menulis panjang-panjang. Tetapi masa juga singkat saja. Kadang-kadang pula tidak pasti sama ada perkara itu sepatutnya ditulis atau tidak. 

Moving Forward - Maju (salah satu perkara yang dapat ditafsirkan)

Saya kira perkara ini perlu untuk saya tulis di sini, tentang kemajuan dan hakikatnya dalam kehidupan seorang muslim. Kita sudah banyak terkena tempias ideologi moden ini, bahawa kemajuan pembangunan negara, bangsa, masyarakat dan agama adalah sesuatu yang perlu dikejar - kita perlu kompetitif untuk mampu bersaing - kita perlu berjaya ini dan itu - digelar ini dan itu - dinobatkan ini dan itu. Sehingga kadang kala kita tidak tahu apakah kepentingan kemajuan itu lagi untuk agama.

Adakah cukup untuk kita hidup, mengejar kejayaan duniawi atas dasar dan kehendak duniawi semata-mata, bukannya atas matlamat agama dan memperjuangkan agama?

Kemajuan adalah satu wasilah yang dibina untuk mencapai tujuan yang lebih benar. Ia adalah toriqoh untuk bergeraknya dakwah islamiah, memelihara agama ini dll. Dan hakikat kemajuan bukanlah sesuatu yang dikejar seperti mana orang kafir memujanya!

Tetapi bukankah kebanyakan kita sudah terpesong?

Kehidupan muslim tida hanya sekadar hukum-hakam, sama ada halal atau haram saja. Tetapi ia juga berkaitan dengan ilmu tauhid dan tasawuf, penjagaan hati dan iman dari fitnah dan cubaan dunia yang bukan semua manusia mampu menyelamatkan diri daripadanya.

Maka, tentulah tiada yang haram dalam mengejar kemajuan. Tetapi jangan sampai kita hilang asalan kita. Kemajuan adalah satu jalan, bukan asal tujuan.

Sunday, 20 May 2012

Ikhlas, sesuatu untuk dipelajari

Belakangan ini Allah banyak mengajar saya tentang ikhlas. Banyak perkara yang saya baca secara rawak menyentuh tentang ikhlas. Maka, saya kira ini adalah waktu yang baik untuk muhasabah diri tentang sejauh mana kita ikhlas dalam kehidupan, dalam amalan, dalam menjadi hamba Allah azzawajal.

"Seseorang yang menuntut ilmu untuk membantah (berhujah) dengan orang bodoh, bermegah dengan ulama' dan mendapat perhatian, maka dimasukkannya ke dalam api neraka." Hadis yan dihasankan oleh Al-Bani.

Sudah banyak dikisahkan ketika zaman Rasulullah saw bahawa sesetengah muslimin yang berbuat kebajikan seperti pergi berperang dengan orang kafir yang akhirnya tidak mendapatkan apa-apa melainkan sanjungan manusia seperti mana yang diniatkan. Pahala syahid terhapus begitu saja.

Manusia hanya akan mendapat apa yang diniatkan. Jika duniawi yang dihajati, maka hanya dunialah yang akan digenggamnya, sedangkan akhirat tidak pula mendekatinya. Wahai! Amatlah rugi manusia itu dengan kerugiaan yang sebesar-besarnya , sedangkan reda Allah itu lebih utama, dan kita hanya mempunyai waktu ini untuk mengumpul bekalan sebelum Hari Hisab kelak.

Maka, ditujukan untuk diri dan semuanya yang ditentukan Allah untuk membaca catatan hati ini, marilah kita semua mengikhlaskan hati dan jiwa untuk mencari reda Allh swt. Bukan sanjungan manusia, bukan kenikmatan dunia.

Allah ghayatuna.

P/s: Beberapa hari lalu, semasa saya menaiki bas pulang ke rumah, saya disapa oleh seorang mak cik (sudah lama saya memerhatikannya, dan rupanya dia juga sudah lama memerhatikan saya). Perkara pertama yang dicakapkan pada saya : "Letaklah pergantungan yang utama kepada Allah, bukan pada suami."

Kemudian, dia berbicara pula tentang ikhlas. "Memang mudah nak cakap tentang ikhlas. Semua orang boleh cakap. Tapi ikhlas yang sebenar itu bukannya mudah."
Mak Cik Farzan segera mencapai tangan saya, lalu memegang erat.
"Jangan lalai dengan kehidupan."

Dan petang itu menjadi petang yang sangat bermakna bagi saya.

Friday, 18 May 2012

Mimpi

Dulu masa kecil-kecil, saya selalu tertanya-tanya dan berfikir, adakah sebenarnya kehidupan yang aku alami sekarang ini hanya mimpi. Bahawa, aku hidup dan bermimpi, dalam masa yang sama, aku berada dalam mimpi diriku yang sebenar. Maksudnya, kehidupan sekarang ini adalah mimpi dan aku akan sedar suatu hari nanti dan masa itu baru aku menyedari bahawa apa yang aku sedang alami di dunia ini hanyalah mimpi. --> Ini adalah apa yang saya fikir masa saya masih belum kenal Islam setulus jiwa.

Tapi kini,

Telah terang lagikan bersuluh, memang hidup ini hanya mimpi. Dalil nas mengukuhkan segalanya. Tiada keraguan lagi. Suatu hari nanti kita akan dibangkitkan dari mimpi ini. Seperti yang dikatakan oleh Saidina Ali ra, bahawasanya kita di dunia ini sedang tidur, sedangkan di kubur nanti barulah kita bangkit (sedar dari tidur).

Thursday, 10 May 2012

Jika suatu hari nanti aku bakal melakukan kajian,
aku ingin menulis tesis tentang sekolah-sekolah agama di Malaysia.
Ke mana kita akan pergi?

Ke mana kaum muslimin di Malaysia akan pergi?

Monday, 7 May 2012

Hakikat Kehidupan Insan, Kita mencari Kebahagian

Pada hakikat kehidupan, setiap manusia cuba mencari kebahagian.
Ada yang menjumpai kebahagian pada harta, pada anak-anak, pada keluarga, pada nyanyian, pada segala ssesuatu yang wujud pada dunia.

Manusia, pada hakikatnya, bekerja untuk kebahagian. Seperi juga seorang petani yang membanting tulang mengangkat cangkul membajak tanah untuk mencari sesuap nasi buat diri dan keluarga. Cuba mencari kebahagian pada kehidupan dengan mengalas perut yang asyik-asyik bergeroncong sahaja.

Atau juga,
pada hakikat perkerjaan seorang tukang sapu sampah. Walaupun kewujudannya penting bagi menjamin kebersihan persekitaran, namun selalu saja dikecam. Atau tidak pun, kewujudannya sebagai hamba Tuhan di atas muka bumi Tuhan ini, tidak pun diendahkan. Demi mencari beberapa pitis wang, itu saja kerja yang terbentang. Direlakan saja.

Atau juga, kadang-kadang saya lihat di dalam bas,
seorang pak cik yang jalannya selalu saja terseret-seret. Matanya nampak lesu akibat kepenatan berkerja seharian mungkin di pejabat berdasarkan pakaiannya. Mungkin sebagai kerani atau sekadar staf sokongan semata. Ada hari, dia membawa pulang sebungkus makanan. Dan sepanjang perjalanan sampai ke destinasinya, dia asyik mengintai-intai isi bungkusan itu yang pastinya tidak pernah lari ke mana-mana. Nampak dari susuk tubunya, dirinya sudah lanjut dimamah usia tetapi masih diteruskan kerjanya.

Maka, inilah hakikat kehidupan insan. Sesiapa saja. Baik para menteri atau mak cik penjual kuih-muih di tepi jalan. Kita berbuat sesuatu untuk kelansungan hidup. Kita berhempas pulas untuk mencapai kehendak kehidupan. Maka, setelah penat lelah kita untuk semua itu, adakah kita mahu rugi, melepaskan kebahagian hisup hakiki, di akhirat sana? 

Thursday, 3 May 2012

There's so much to do, muslim. And it's time to rise up.
Arise from a long deep sleep.
We are invaded with inferiority complex that has penetrated very deeply in the muslim society and individuals.
It's time to rise up and understand what we need to have entirely.

Let's rise up, muslim.
It's time to take up the challenge to make Islam at its peak again!